Berwisata ke Gorontalo: Kota Jin dan Tangan Ajaib Pedagang Pisgor

untitled

Apa yang ada dalam pikiran kita ketika mendengar “Gorontalo”? Sebagian mungkin teringat akan keberhasilan Gubernurnya, Bapak Fadel Muhammad, menggenjot produksi jagung sehingga provinsi yang baru berumur delapan tahun ini terkenal sebagai provinsi jagung. Namun pernahkah mendengar adanya kota jin di Gorontalo? Atau ada seorang ibu pedagang pisang goreng yang membolak-balik pisang gorengnya di dalam minyak mendidih dengan tangannya? Itulah mungkin sebagian lain daya tarik Gorontalo.

Provinsi Gorontalo setelah dimekarkan dari Provinsi Sulawesi Utara delapan tahun yang lalu berkembang menjadi provinsi yang cukup berhasil. Keberhasilan yang paling menonjol adalah meningkatnya produksi jagung sehingga jagung menjadi ikon di provinsi muda ini. Untuk menggenjot produksi jagung, hampir semua lahan di seantero provinsi dibudidayakan untuk kebun jagung, termasuk lereng-lereng terjal berkemiringan di atas 40% yang seharusnya menjadi kawasan lindung. Bahkan pada lereng dengan keterjalan hingga 60o (lebih besar dari 100%) sekalipun, masyarakat sangat aktif berkebun jagung.

Kuliner khas Gorontalo pun terbuat dari jagung, yaitu binte biluhuta, sejenis sup jagung. Pada pagi hari umumnya banyak dihidangkan nasi kuning. Namun sebagaimana kota pantai, kulinernya pun tidak jauh dari makanan laut. Sejenis ikan-ikan kecil yang disebut nike atau duwo dalam Bahasa Gorontalo menjadi kuliner favorit yang hanya muncul di laut dekat muara sungai pada bulan-bulan gelap.

Destinasi wisata Provinsi Gorontalo lebih mengandalkan wisata alam. Pantai-pantai yang berpasir putih dengan latar belakang teluk-teluk dan tanjung-tanjung terjal menjadi pemandangan yang asyik dinikmati. Dari sekian tempat wisata alam, salah satu yang dipromosikan adalah Taman Wisata Laut Olele yang berjarak lebih kurang satu jam perjalanan dari Kota Gorontalo menyusuri pantai selatan. Bagi para penyelam, Olele adalah surga terumbu karang. Beberapa penyelam berpendapat bahwa Olele bahkan jauh lebih indah daripada Bunaken di lepas pantai Manado, Sulawesi Utara.

image003

Sebuah teluk yang indah di pantai utara Provinsi Gorontalo, dalam perjalanan ke Atinggola, jalur utama menuju Manado, Provinsi Sulawesi Utara

Istana Jin di Kotajin
Rasanya destinasi wisata di atas dapat dikatakan biasa-biasa saja. Hanya wisata alam, sejarah dan budaya. Tapi bandingkan ketika mendengar ada kota jin di Gorontalo. Kota jin sebenarnya hanya satu toponim atau nama geografis di Kabupaten Gorontalo Utara. Nama itu merupakan sebuah desa di Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, yang bernama Desa Kotajin (penulisan disatukan sesuai dengan aturan toponimi).
Tetapi siapapun akan penasaran mengapa desa itu dinamakan Kotajin. Dengan berkendaraan mobil mengikuti jalan trans-Sulawesi menyusuri pantai utara Laut Sulawesi yang tidak kalah indahnya ke arah perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara di Kecamatan Atinggola, tepat pada Km 100 kita akan membaca papan: selamat datang di Desa Kotajin. Beruntunglah kami dapat menemui Bapak Rahim Ibrahim, Kepala Desa Kotajin, yang manusia biasa dan bukan jin tentu saja.

image005

Rekan penulis nampang di depan plank masjid Desa Kotajin setelah shalat Jumat.

Menurut pak Ibrahim, ia sendiri tidak begitu mengerti mengapa daerahnya dinamakan Kotajin. Namun ia menunjukkan satu bongkah batu besar dengan gua sempit di dalamnya. Bongkah besar batu itu dinamakan Otalojin, atau benteng istananya para jin. Menurut cerita turun-temurun di desa itu, dulu sering ada pemberian sesajen di depan gua sebelum aktivitas bertani di sawah sekelilingnya dilakukan. Ada pula cerita orang yang hilang di sekitar istana batu para jin tersebut.
Otalojin secara geologis sebenarnya hanyalah bongkah batu besar dari batu gamping (batu kapur) yang telah mengalami proses pelarutan dengan terbentuknya gua sempit di dalamnya. Ketika mendekat ke satu-satunya tempat yang mungkin menjadi asal-usul nama Kotajin itu, suasana angker tidak terasa. Sebuah pohon beringin besar memang tumbuh di atasnya, tetapi anak-anak desa dengan ceria bermain di sekitarnya, memanjat batu, dan memasuki gua sempit tanpa rasa takut. Di alat GPS posisinya dapat dideteksi pada lintang utara 0o54′49.1″ dan bujur timur 123o06′38.6″.

image001

Otalojin, istana jin di Desa Kotajin berupa bongkah besar batu gamping

Kotajin justru akan sangat meriah pada setiap Rabu terakhir Bulan Sapar karena seluruh penduduk desa akan melakukan ritual mandi Sapar di Sungai Andagila yang menjadi batas Provinsi Gorontalo dengan Sulawesi Utara. Menurut kepercayaan setempat, hari Rabu di bulan Sapar adalah hari naas yang harus dibersihkan dengan cara mandi di sungai.

Tangan Ajaib Ta No’u

Ketika tidak mendapatkan sesuatu yang sedikit supernatural di Kotajin, justru kondisi itu didapatkan di Kota Gorontalo sendiri. Sehabis maghrib, datanglah ke Jalan Raja Eyato nomor 100 tidak jauh dari Masjid Baiturrahim yang bersejarah. Seorang ibu yang menjual pisang goreng, tahu, dan ubi pada mulanya menggoreng dengan cara biasa saja dengan menggunakan penggorengan dari bahan alumunium.

Ia yang dipanggil Ta No’u sedikit merendah jika ditanya apakah mempunyai kemampuan luar biasa. Setelah sedikit didesak, akhirnya perempuan yang memang sejak dulu berprofesi sebagai penjual pisang goreng mulai memperagakan keunikannya. Dengan santai ia kemudian mencelupkan tangannya ke dalam minyak yang mendidih dan membolak-balik gorengannya. Ia juga dengan tanpa merasa panas memegang katel penggorengan dan api yang menyala dari kompor. Luar biasa, tangannya tidak sedikitpun melepuh.

Menurut ibu yang bernama asli Hartin Maliki itu, bakatnya yang unik itu didapat ketika sepuluh tahun yang lalu mendapat bisikan gaib suara perempuan untuk mencoba menggoreng dengan tangan langsung. Bakatnya itu telah membawanya ke Perancis selama 12 hari pada tahun 2008 yang lalu. Menurutnya, atraksinya di Perancis mendapat sambutan masyarakat Paris secara luar biasa. Pisang goreng yang di Gorontalo dijual seharga Rp. 1000,- di Perancis hasil tangan ajaibnya laku seharga 20 euro. Dengan bangga ia pun pernah keliling Indonesia memperagakan bakatnya yang luar biasa. Tahun 2009, bakat tangannya akan membawanya ke Singapura, Malaysia, dan Jepang.

image007

(atas), dan Ta No’u dengan berkah tangan ajaibnya menggoreng pisang langsung ke minyak mendidih (kanan)

Begitulah sedikit oleh-oleh yang menarik dari kunjungan ke Provinsi Gorontalo. Keunikan-keunikan daerah yang terpotret selama perjalanan singkat itu menjadi dokumentasi pariwisata yang sangat berharga. Jika ada kesempatan datanglah ke Gorontalo dan cicipilah pisang goreng Ta No’u langsung diangkat dengan tangannya dari minyak yang mendidih dan disajikan dengan sambal khas Gorontalo yang pedas ***

Sumber : http://ayotamasya.com/?p=523

Budi Brahmantyo
Staf di FITB, ITB; Kepala Pusat Kepariwisataan (P-P2Par) ITB; anggota IAGI, dan KRCB; peserta Ekspedisi Geografi Indonesia V Gorontalo, Bakosurtanal.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: